Kamis, 18 November 2010

KEPEMIMPINAN PUNOKAWAN

KEPEMIMPINAN PUNAKAWAN : Semar-Gareng-Petruk-Bagong
CONTOH LEADERSHIP PUNAKAWAN
ABDI KINASIH KESATRIA PENDHAWA LIMA
KI LURAH SEMAR BADRANAYA, NALA GARENG,
PETRUK KANTHONG BOLONG DAN KI LURAH BAGONG
“Tanggap ing sasmita dan Limpat Pasang ing Grahita, dan Cakra-Manggilingan”
“Pinangka mrih hamemayu hayuning bawana”
“Puna” atau “pana” dalam terminologi Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat, mengerti, cerdik dalam mencermati atau mengamati makna hakekat di balik kejadian-peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan manusia. Sedangkan kawan berarti pula pamong atau teman. Jadi punakawan mempunyai makna yang menggambarkan seseorang yang menjadi teman, yang mempunyai kemampuan mencermati, menganalisa, dan mencerna segala fenomena dan kejadian alam serta peristiwa dalam kehidupan manusia. Punakawan dapat pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing yang memiliki kecerdasan fikir, ketajaman batin, kecerdikan akal-budi, wawasannya luas, sikapnya bijaksana, dan arif dalam segala ilmu pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara perkataan dan tindakannya sama, tidaklah bertentangan. Khasanah budaya Jawa menyebutnya sebagai “tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita”. Dalam istilah pewayangan terdapat makna sinonim dengan apa yang disebut wulucumbu yakni rambut yang tumbuh pada jempol kaki. Keseluruhan gambaran karakter pribadi Ki Lurah Semar tersebut berguna dalam upaya melestarikan alam semesta, dan menciptakan kemakmuran serta kesejahteraan di bumi pertiwi.
Dalam cerita pewayangan Jawa, punakawan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing memiliki peranan yang sama sebagai penasehat spiritual dan politik, namun masing-masing mengasuh tokoh yang karakternya saling kontradiksi.
Kelompok Ki Lurah Semar Badranaya
Kelompok ini terdiri Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong (Sunda: Cepot). Mereka menggambarkan kelompok punakawan yang jujur, sederhana, tulus, berbuat sesuatu tanpa pamrih, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat luas, cerdik, dan mata batinnya sangat tajam. Ki Lurah Semar, khususnya, memiliki hati yang “nyegoro” atau seluas samudra serta kewaskitaan dan kapramanan-nya sedalam samudra. Hanya satria sejati yang akan menjadi asuhan Ki Lurah Semar. Semar hakekatnya sebagai manusia setengah dewa, yang bertugas mengemban/momong para kesatria sejati.
Ki Lurah Semar disebut pula Begawan Ismaya atau Hyang Ismaya, karena eksistensinya yang teramat misterius sebagai putra Sang Hyang Tunggal umpama dewa mangejawantah. Sedangkan julukan Ismaya artinya tidak wujud secara wadag/fisik, tetapi yang ada dalam keadaan samar/semar. Dalam uthak-athik-gathuk secara Jawa, Ki Semar dapat diartikan guru sejati (sukma sejati), yang ada dalam jati diri kita. Guru sejati merupakan hakekat Zat tertinggi yang terdapat dalam badan kita. Maka bukanlah hal yang muskil bila hakekat guru sejati yang disimbolkan dalam wujud Ki Lurah Semar, memiliki kemampuan sabda pendita ratu, ludahnya adalah ludah api (idu geni). Apa yang diucap guru sejati menjadi sangat bertuah, karena ucapannya adalah kehendak Tuhan. Para kesatria yang diasuh oleh Ki Lurah Semar sangat beruntung karena negaranya akan menjadi adil makmur, gamah ripah, murah sandang pangan, tenteram, selalu terhindar dari musibah.
Tugas punakawan dimulai sejak kepemimpinan Prabu Herjuna Sasrabahu di negeri Maespati, Prabu Ramawijaya di negeri Pancawati, Raden Sakutrem satria Plasajenar, Raden Arjuna Wiwaha satria dari Madukara, Raden Abimanyu satria dari Plangkawati, dan Prabu Parikesit di negeri Ngastina. Ki Lurah Semar selalu dituakan dan dipanggil sebagai kakang, karena dituakan dalam arti kiasan yakni ilmu spiritualnya sangat tinggi, sakti mandraguna, berpengalaman luas dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan. Bahkan para Dewa pun memanggilnya dengan sebutan “kakang”.
Kelompok punakawan ini bertugas :
1. Menemani (mengabdi) para bendhara (bos) nya yang memiliki karakter luhur budi pekertinya. Tugas punakawan adalah sebagai “pembantu” atau abdi sekaligus “pembimbing”. Tugasnya berlangsung dari masa ke masa.
2. Dalam cerita pewayangan, kelompok ini lebih sebagai penasehat spiritual, pamomong, kadang berperan pula sebagai teman bercengkerama, penghibur di kala susah.
3. Dalam percengkeramaannya yang bergaya guyon parikena atau saran, usulan dan kritikan melalui cara-cara yang halus, dikemas dalam bentuk kejenakaan kata dan kalimat. Namun di dalamnya selalu terkandung makna yang tersirat berbagai saran dan usulan, dan sebagai pepeling akan sikap selalu eling dan waspadha yang harus dijalankan secara teguh oleh bendharanya yang jumeneng sebagai kesatria besar.
4. Pada kesempatan tertentu punakawan dapat berperan sebagai penghibur selagi sang bendhara mengalami kesedihan.
5. Pada intinya, Ki Lurah Semar dkk bertugas untuk mengajak para kesatria asuhannya untuk selalu melakukan kebaikan atau kareping rahsa (nafsu al mutmainah). Dalam terminologi Islam barangkali sepadan dengan istilah amr ma’ruf.
Adapun watak kesatria adalah: halus, luhur budi pekerti, sabar, tulus, gemar menolong, siaga dan waspada, serta bijaksana.
Kelompok Ki Lurah Togog
Kelompok ini terdiri tiga personil yakni: Ki Lurah Togog (Sarawita) dan Mbilung. Punakawan ini bertugas menemani bendhara-nya yang berkarakter dur angkara yakni para Ratu Sabrang. Sebut saja misalnya Prabu Baladewa di negeri Mandura, Prabu Basukarna di negeri Ngawangga, Prabu Dasamuka (Rahwana) di negeri Ngalengka, Prabu Niwatakawaca di negeri Iman-Imantaka dan beberapa kesatria dari negara Sabrangan yang berujud (berkarakter) raksasa; pemarah, bodoh, namun setia dalam prinsip. Lurah Togog disebut pula Lurah Tejamantri. Ki Togog dkk secara garis besar bertugas mencegah asuhannya yang dur angkara, untuk selalu eling dan waspadha, meninggalkan segala sifat buruk, dan semua nafsu negatif. Beberapa tugas mereka antara lain:
1. Mereka bersuara lantang untuk selalu memberikan koreksi, kritikan dan saran secara kontinyu kepada bendhara-nya.
2. Memberikan pepeling kepada bendhara-nya agar selalu eling dan waspadha jangan menuruti kehendak nafsu jasadnya (rahsaning karep).
Gambaran tersebut sesungguhnya memproyeksikan pula karakter dalam diri manusia (jagad alit). Sebagaimana digambarkan bahwa kedua kesatria di atas memiliki karakter yang berbeda dan saling kontradiktori. Maknanya, dalam jagad kecil (jati diri manusia) terdapat dua sifat yang melekat, yakni di satu sisi sifat-sifat kebaikan yang memancar dari dalam cahyo sejati (nurulah) merasuk ke dalam sukma sejati (ruhulah). Dan di sisi lain terdapat sifat-sifat buruk yang berada di dalam jasad atau ragawi. Kesatria yang berkarakter baik diwakili oleh kelompok Pendawa Lima beserta para leluhurnya. Sedangkan kesatria yang berkarakter buruk diwakili oleh kelompok Kurawa 100. walaupun keduanya masing-masing sudah memiliki penasehat punakawan, namun tetap saja terjadi peperangan di antara dua kelompok kesatria tersebut. Hal itu menggambarkan betapa berat pergolakan yang terjadi dalam jagad alit manusia, antara nafsu negatif dengan nafsu positif. Sehingga dalam cerita pewayangan digambarkan dengan perang Brontoyudho antara kesatria momongan Ki Lurah Semar dengan kesatria momongan Ki Togog. Antara Pendawa melawan Kurawa 100. Antara nafsu positif melawan nafsu negatif. Medan perang dilakukan di tengah Padhang Kurusetra, yang tidak lain menggambarkan hati manusia.
Makna di Balik Simbol Punakawan
1. Ki Lurah Semar (simbol ketentraman dan keselamatan hidup)
Membahas Semar tentunya akan panjang lebar seperti tak ada titik akhirnya. Semar sebagai simbol bapa manusia Jawa. Bahkan dalam kitab jangka Jayabaya, Semar digunakan untuk menunjuk penasehat Raja-raja di tanah Jawa yang telah hidup lebih dari 2500 tahun. Dalam hal ini Ki Lurah Semar tiada lain adalah Ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong, dua saudara kembar penasehat spiritual Raja-raja. Sosoknya sangat misterius, seolah antara nyata dan tidak nyata, tapi jika melihat tanda-tandanya orang yang menyangkal akan menjadi ragu. Ki Lurah Semar dalam konteks Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan bapa atau Dahyang-nya manusia Jawa. Menurut jangka Jayabaya kelak saudara kembar tersebut akan hadir kembali setelah 500 tahun sejak jatuhnya Majapahit untuk memberi pelajaran kepada momongannya manusia Jawa (nusantara). Jika dihitung kedatangannya kembali, yakni berkisar antara tahun 2005 hingga 2011. Maka bagi para satria momongannya Ki Lurah Semar ibarat menjadi jimat; mung siji tur dirumat. Selain menjadi penasehat, punakawan akan menjadi penolong dan juru selamat/pelindung tatkala para satria momongannya dalam keadaan bahaya.
Dalam cerita pewayangan Ki Lurah Semar jumeneng sebagai seorang Begawan, namun ia sekaligus sebagai simbol rakyat jelata. Maka Ki Lurah Semar juga dijuluki manusia setengah dewa. Dalam perspektif spiritual, Ki Lurah Semar mewakili watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah terlalu sedih dan tidak pernah tertawa terlalu riang. Keadaan mentalnya sangat matang, tidak kagetan dan tidak gumunan. Ki Lurah Semar bagaikan air tenang yang menghanyutkan, di balik ketenangan sikapnya tersimpan kejeniusan, ketajaman batin, kaya pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Ki Lurah Semar menggambarkan figur yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran dan menghindari perbuatan dur-angkara. Ki Lurah Semar juga dijuluki Badranaya, artinya badra adalah rembulan, naya wajah. Atau Nayantaka, naya adalah wajah, taka : pucat. Keduanya berarti menyimbolkan bahwa Semar memiliki watak rembulan (lihat thread: Pusaka Hasta Brata). Dan seorang figur yang memiliki wajah pucat, artinya Semar tidak mengumbar hawa nafsu. Semareka den prayitna: semare artinya menidurkan diri, agar supaya batinnya selalu awas. Maka yang ditidurkan adalah panca inderanya dari gejolak api atau nafsu negatif. Inilah nilai di balik kalimat wani mati sajroning urip (berani mati di dalam hidup). Perbuatannya selalu netepi kodrat Hyang Widhi (pasrah), dengan cara mematikan hawa nafsu negatif. Sikap demikian akan diartikulasikan ke dalam sikap watak wantun kita sehari-hari dalam pergaulan, “pucat’ dingin tidak mudah emosi, tenang dan berwibawa, tidak gusar dan gentar jika dicaci-maki, tidak lupa diri jika dipuji, sebagaimana watak Badranaya atau wajah rembulan.
Dalam khasanah spiritual Jawa, khususnya mengenai konsep manunggaling kawula Gusti, Ki Lurah Semar dapat menjadi personifikasi hakekat guru sejati setiap manusia. Semar adalah samar-samar, sebagai perlambang guru sejati atau sukma sejati wujudnya samar bukan wujud nyata atau wadag, dan tak kasad mata. Sedangkan Pendawa Lima adalah personifikasi jasad/badan yang di dalamnya terdapat panca indera. Karena sifat jasad/badan cenderung lengah dan lemah, maka sebaik apapun jasad seorang satria, tetap saja harus diasuh dan diawasi oleh sang guru sejati agar senantiasa eling dan waspadha. Agar supaya jasad/badan memiliki keteguhan pada ajaran kebaikan sang guru sejati. Guru sejati merupakan pengendali seseorang agar tetap dalam “laku” yang tepat, pener dan berada pada koridor bebener. Siapa yang ditinggalkan oleh pamomong Ki Lurah Semar beserta Gareng, Petruk, Bagong, ia akan celaka, jika satria maka di negerinya akan mendapatkan banyak malapetaka seperti : musibah, bencana, wabah penyakit (pageblug), paceklik. Semua itu sebagai bebendu karena manusia (satria) yang ditinggalkan guru sejati-nya telah keluar dari jalur bebener.
Jika ditinjau dari perspektif politik, kelompok Punakawan Ki Lurah Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk, Bagong sebagai lambang dari lembaga aspirasi rakyat yang mengemban amanat penderitaan rakyat. Atau semacam lembaga legislatif. Sehingga kelompok punakawan ini bertugas sebagai penyambung lidah rakyat, melakukan kritikan, nasehat, dan usulan. Berkewajiban sebagai pengontrol, pengawas, pembimbing jalannya pemerintahan di bawah para Satria asuhannya yakni Pendhawa Lima sebagai lambang badan eksekutif atau lembaga pemerintah. Dengan gambaran ini, sebenarnya dalam tradisi Jawa sejak masa lampau telah dikenal sistem politik yang demokratis.
2. Nala Gareng
Nala adalah hati, Gareng (garing) berarti kering, atau gering, yang berarti menderita. Nala Gareng berarti hati yang menderita. Maknanya adalah perlambang “laku” prihatin. Namun Nala Gareng diterjemahkan pula sebagai kebulatan tekad. Dalam serat Wedhatama disebutkan gumeleng agolong-gilig. Merupakan suatu tekad bulat yang selalu mengarahkan setiap perbuatannya bukan untuk pamrih apapun, melainkan hanya untuk netepi kodrat Hyang Manon. Nala Gareng menjadi simbol duka-cita, kesedihan, nelangsa. Sebagaimana yang tampak dalam wujud fisik Nala Gareng merupakan sekumpulan simbol yang menyiratkan makna sbb:
Mata Juling:
Mata sebelah kiri mengarah keatas dan ke samping. Maknanya Nala Gareng selalu memusatkan batinnya kepada Hyang Widhi.
Lengan Bengkok atau cekot/ceko :
Melambangkan bahwasannya manusia tak akan bisa berbuat apa-apa bila tidak berada pada kodrat atau kehendak Hayng Widhi.
Kaki Pincang, jika berjalan sambil jinjit :
Artinya Nala Gareng merupakan manusia yang sangat berhati-hati dalam melangkah atau dalam mengambil keputusan. Keadaan fisik nala Gareng yang tidak sempurna ini mengingatkan bahwa manusia harus bersikap awas dan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini karena sadar akan sifat dasar manusia yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan.
Mulut Gareng :
Mulut gareng berbentuk aneh dan lucu, melambangkan ia tidak pandai bicara, kadang bicaranya sasar-susur (belepotan) tak karuan. Bicara dan sikapnya serba salah, karena tidak merasa percaya diri. Namun demikian Nala Gareng banyak memiliki teman, baik di pihak kawan maupun lawan. Inilah kelebihan Nala Gareng, yang menjadi sangat bermanfaat dalam urusan negosiasi dan mencari relasi, sehingga Nala Gareng sering berperan sebagai juru damai, dan sebagai pembuka jalan untuk negosiasi. Justru dengan banyaknya kekurangan pada dirinya tersebut, Nala Gareng sering terhindar dari celaka dan marabahaya.
3. Petruk Kanthong Bolong
Ki Lurah Petruk adalah putra dari Gandarwa Raja yang diambil anak oleh Ki Lurah Semar. Petruk memiliki nama alias, yakni Dawala. Dawa artinya panjang, la, artinya ala atau jelek. Sudah panjang, tampilan fisiknya jelek. Hidung, telinga, mulut, kaki, dan tangannya panjang. Namun jangan gegabah menilai, karena Lurah Petruk adalah jalma tan kena kinira, biar jelek secara fisik tetapi ia sosok yang tidak bisa diduga-kira. Gambaran ini merupakan pralambang akan tabiat Ki Lurah Petruk yang panjang pikirannya, artinya Petruk tidak grusah-grusuh (gegabah) dalam bertindak, ia akan menghitung secara cermat untung rugi, atau resiko akan suatu rencana dan perbuatan yang akan dilakukan. Petruk Kanthong Bolong, menggambarkan bahwa Petruk memiliki kesabaran yang sangat luas, hatinya bak samodra, hatinya longgar, plong dan perasaannya bolong tidak ada yang disembunyikan, tidak suka menggerutu dan ngedumel.
Dawala, juga menggambarkan adanya pertalian batin antara para leluhurnya di kahyangan (alam kelanggengan) dengan anak turunnya, yakni Lurah Petruk yang masih hidup di mercapada. Lurah Petruk selalu mendapatkan bimbingan dan tuntunan dari para leluhurnya, sehingga Lurah Petruk memiliki kewaskitaan mumpuni dan mampu menjadi abdi dalem (pembantu) sekaligus penasehat para kesatria.
Petruk Kanthong Bolong wajahnya selalu tersenyum, bahkan pada saat sedang berduka pun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum dengan penuh ketulusan. Petruk mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri di hadapan para kesatria bendharanya. Sehingga kehadiran petruk benar-benar membangkitkan semangat dan kebahagiaan tersendiri di tengah kesedihan. Prinsip “laku” hidup Ki Lurah Petruk adalah kebenaran, kejujuran dan kepolosan dalam menjalani kehidupan. Bersama semua anggota Punakawan, Lurah Petruk membantu para kesatria Pandhawa Lima (terutama Raden Arjuna) dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan.
4. Bagong
Bagong adalah anak ketiga Ki Lurah Semar. Secara filosofi Bagong adalah bayangan Semar. Sewaktu Semar mendapatkan tugas mulia dari Hyang Manon, untuk mengasuh para kesatria yang baik, Semar memohon didampingi seorang teman. Permohonan Semar dikabulkan Hyang Maha Tunggal, dan ternyata seorang teman tersebut diambil dari bayangan Semar sendiri. Setelah bayangan Semar menjadi manusia berkulit hitam seperti rupa bayangan Semar, maka diberi nama Bagong. Sebagaimana Semar, bayangan Semar tersebut sebagai manusia berwatak lugu dan teramat sederhana, namun memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Ia tahan menanggung malu, dirundung sedih, dan tidak mudah kaget serta heran jika menghadapi situasi yang genting maupun menyenangkan. Penampilan dan lagak Lurah Bagong seperti orang dungu. Meskipun demikian Bagong adalah sosok yang tangguh, selalu beruntung dan disayang tuan-tuannya. Maka Bagong termasuk punakawan yang dihormati, dipercaya dan mendapat tempat di hati para kesatria. Istilahnya bagong diposisikan sebagai bala tengen, atau pasukan kanan, yakni berada dalam jalur kebenaran dan selalu disayang majikan dan Tuhan.
Dalam pagelaran wayang kulit, kelompok punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong selalu mendapatkan tempat di hati para pemirsa. Punakawan tampil pada puncak acara yang ditunggu-tunggu pemirsa yakni goro-goro, yang menampilkan berbagai adegan dagelan, anekdot, satire, penuh tawa yang berguna sebagai sarana kritik membangun sambil bercengkerama (guyon parikena). Punakawan menyampaikan kritik, saran, nasehat, maupun menghibur para kesatria yang menjadi asuhan sekaligus majikannya. Suara punakawan adalah suara rakyat jelata sebagai amanat penderitaan rakyat, sekaligus sebagai “suara” Tuhan menyampaikan kebenaran, pandangan dan prinsip hidup yang polos, lugu namun terkadang menampilkan falsafah yang tampak sepele namun memiliki esensi yang sangat luhur. Itulah sepak “terjang punakawan” bala tengen yang suara hatinuraninya selalu didengar dan dipatuhi oleh para kesatria asuhan sekaligus majikannya.
Kepemimpinan Punakawan Kontroversial
Dalam cerita wayang sebagaimana kisah-kisah dalam legenda lainnya, terdapat kelompok antagonis. Dalam cerita wayang tokoh-tokoh antagonis berasal dari negri seberang atau Sabrangan. Punakawan Togog atau Tejamantri, Sarawita dan Mbilung merupakan punakawan kontroversif yang selalu membimbing tokoh pembesar antagonis, para “ksatria” angkara murka (dur angkara), hingga para pimpinan raksasa jahat. Sebut saja misalnya Prabu Dasamuka, Prabu Niwatakawaca, Prabu Susarma, hingga para kesatria dur angkara dari Mandura seperti Raden Kangsa dan seterusnya. Pada intinya Ki Lurah Togog dkk selalu berada di pihak tokoh antagonis, sehingga disebut sebagai bala kiwa. Namun demikian bukan berarti kelompok punakawan ini memiliki karakter buruk.
Ciri fisik Togog dkk memiliki mulut yang lebar. Artinya mereka selalu berkoar menyuarakan kebaikan, peringatan (pepeling) kepada majikannya agar tetap waspada dan eling, menjadi manusia jangan berlebihan. Ngono ya ngono ning aja ngono. Manusia harus mengerti batas-batas perikemanusiaan. Sekalipun akan mengalahkan lawan atau musuhnya tetap harus berpegang pada etika seorang kesatria yang harus gentle, tidak pengecut, dan tidak memenangkan perkelahian dengan jalan yang licik. Sekalipun menang tidak boleh menghina dan mempermalukan lawannya (menang tanpa ngasorake). Itulah ajaran Ki Lurah Togog dkk yang sering kali diminta nasehat dan saran oleh para majikannya. Namun toh akhirnya setiap nasehat, saran, masukan, aspirasi yang disampaikan Ki Lurah Togog dkk tetap saja tidak pernah digubris oleh majikannya mereka tetap setia. Ki Lurah Togog dkk walaupun menjabat posisi sentral sebagai penasehat, pengasuh dan pembimbing, yang selalu bermulut lantang menyuarakan pepeling, seolah peran mereka hanya sebagai obyek pelengkap penderita. Walaupun Ki Lurah Togog dkk selalu gagal mengasuh majikannya para kesatria dur angkara, hingga sering berpindah majikan untuk bersuara lantang mencegah kejahatan. Bukan berarti mereka tidak setia. Sebaliknya dalam hal kesetiaan sebagai kelompok penegak kebenaran, Ki Lurah togog patut menjadi teladan baik. Karena sekalipun sering dimaki, dibentak dan terkena amarah majikannya, Ki Lurah Togog dkk tidak mau berkhianat. Sekalipun selalu gagal memberi kritik dan saran kepada majikannya, mereka tetap teguh dalam perjuangan menegakkan keadilan. Dan lagi-lagi, mereka selalu dimintai saran dan kritikan, namun serta-merta diingkari pula oleh majikan-majikan barunya. Itulah nasib Togog dkk, yang mengisyaratkan nasib rakyat kecil yang selalu mengutarakan aspirasi dan amanat penderitaan rakyat namun tidak memiliki bargaining power. Ibarat menyirami gurun, seberapapun nasehat dan kritikan telah disiramkan di hati para “pemimpin” dur angkara, tak akan pernah membekas dalam watak para majikannya. Barangkali nasib kelompok punakawan Ki Lurah Togog dkk mirip dengan apa yang kini dialami oleh rakyat Indonesia. Suara hati nurani rakyat sulit mendapat tempat di hati para tokoh dan pejabat hing nusantara nagri. Sekalipun sekian banyak pelajaran berharga di depan mata, namun manifestasi perbuatan dan kebijakan politiknya tetap saja kurang populer untuk memihak rakyat kecil. By sabdalangit

Jumat, 01 Oktober 2010

Tujuh Cara menjadi Guru Yang Profesional Dalam Bersikap


Anda sedang berada diruang guru untuk beristirahat atau sekedar berkumpul dengan rekan sejawat? Sedikit demi sedikit ubah kebiasaan untuk membicarakan hal dan topik diluar areal kita sebagai pendidik professional. Pertama kali anda mungkin akan dianggap aneh, namun sebagai guru jangan khawatir dianggap aneh jika yang kita maksudkan adalah demi perbaikan pola pikir dalam bersikap dan berkarier. Sekarang mana yang lebih penting, membicarakan gosip artis terbaru atau menganalisa pola pikir pemilih pemula dalam pemilu yang baru lalu yang nota bene adalah siswa-siswi kita? Tidak itu saja banyak topik yang jika kita renungkan, tidak layak didiskusikan oleh guru sebagai pendidik. Jika anda masih merasa sulit untuk melakukan hal diatas, caranya gampang, cukup cari bacaan yang bermanfaat, bacalah maka anda akan terhindar dari pembicaraan yang sia-sia di ruang guru.
2. Jika anda punya rekan baru, bimbinglah dan berikan support dan dukungan untuk maju dengan cara selalu berkomentar positip untuk hal-hal yang dilakukannya. Tempatkan diri anda pada dirinya, maka anda akan menjadi rekan kerja yang supportif dan mau mengerti.
3. Saat rapat, usahakan lah memberikan ide yang terbaik, masalahnya bukan pada diterima atau tidak, tapi sudahkah anda belajar meyakinkan orang lain bahwa ide andalah yang terbaik. Hal yang terbaik ketika meyakinkan rekan sekerja adalah dengan menggunakan data yang berupa hasil riset.
4. Jadilah guru yang berpikiran terbuka atas ide atau pendapat orang lain, menyadari kelemahan dan kekuatan diri kita sendiri, dijamin makin hari wawasan dan kualitas diri kita sebagai guru akan bertambah.
5. Ciptakan jaringan bagi diri sendiri yang membuat anda semakin hari berubah kearah guru yang lebih baik. Gunakan situs pertemanan seperti facebook untuk membuat jaringan pada pribadi-pribadi yang membuat anda bersemangat untuk maju. Jangan gunakan situs pertemanan untuk pelarian ketika anda mempunyai masalah dengan rekan sekerja di sekolah. Sambil berusaha sedikit demi sedikit menyelesaikan hal yang mungkin menjadi ganjalan , buktikan bahwa jika anda tidak mendapatkan support yang baik disekolah anda bisa mendapatkannya dengan bantuan teknologi.
6. Semua guru berbeda, seperti juga terhadap siswa, sebagai rekan kita semestinya menjadikan perbedaan itu sebagai anugrah. Dengan menyadari perbedaan, pikiran kita akan lebih cepat terbuka ketika menerima kritik, masukan dan ide dari rekan sekerja. Saat yang sama kita menjadi lebih jujur mengenai kelebihan dan tidak malu mengatakan kekurangan sebagai pribadi.
7. Jangan takut untuk dibicarakan oleh orang lain ‘dibelakang’. Terkadang sebagai guru, hanya karena takut dibicarakan orang lain dibelakang, guru menjadi malas untuk berinovasi dan melakukan sesuatu dengan cara yang kreatif dan beda. Padahal jika sebagai guru, kita yakin bahwa hal yang kita lakukan demi kebaikan siswa, untuk apa pusing mendengarkan pendapat orang lain. Mari mensucikan niat bahwa semua hal yang terbaik yang kita lakukan adalah demi mempersiapkan masa depan siswa, bukan demi karier, demi dipuji rekan, atasan dan orang tua siswa.
Sumber:Guru Kreatif

Selasa, 31 Agustus 2010

MISTERI JENGLOT


Misteri Jenglot


PELAJARAN BERHARGA DI BALIK KISAH BETHARA KARANG (Jenglot)
Jenglot atau lebih populer dengan nama Bethara Karang telah lama dikenal sebagian masyarakat yang menggemari koleksi berbagai macam ajimat, pusaka, atau benda-benda keramat bernergi gaib. Bethara Karang (biasa disingkat; BK) wujudnya seperti mummy dengan ukuran panjang 5 cm, ada yang >10 cm. BK memiliki ciri khas, tubuhnya mirip tubuh manusia yang kurus kering seperti mummy, kukunya panjang bisa mencapai 2 cm lebih, panjang rambutnya biasanya melebihi panjang tubuhnya, matanya hitam tak mempunyai putih mata, tidak bisa berkedip alias selalu melotot. Wajah BK menyeramkan hampir mirip seperti topeng leak Bali tetapi berwarna hitam kelam. Sekitar tahun 1993 penemuan BK menghebohkan masyarakat hingga pernah di tes DNA oleh pakar medis UI, ternyata memiliki struktur kromosom yang mirip manusia. Pernah terjadi polemik tentang asal usul BK, di satu pihak dikatakan sebagai rekayasa belaka. Di lain pihak BK diyakini sebagai wujud manusia yang tengah mengalami hukuman Tuhan. Saya pun tak pernah ingin dan penasaran untuk mengungkap apa atau siapa sejatinya BK itu, sebab bagi saya pribadi “benda” itu tak memiliki keistimewaan apapun. Sebaliknya lebih banyak saya mendengar cerita buruk dari kisah BK yang dialami para pemiliknya atau pada saat benda tersebut dipamerkan di mal-mal. Misalnya, seorang pengunjung menatap mata BK kemudian tiba-tiba kesurupan. Rambut dan kuku BK atau Jenglot juga dapat tumbuh semakin panjang. Sehingga sejak itu setiap kali BK dihadirkan dalam ruang pameran pada khalayak matanya selalu ditutup isolasi warna hitam. BK juga harus diberi makan berupa darah golongan O dicampur minyak wangi, jenglot mampu menghabiskan 50 ml per 3-8 jam. Maka bagi pemilik BK, pada saat-saat tertentu harus membeli darah golongan O di PMI dan dicampur minyak wangi jenis tertentu lalu diberikannya kepada BK melalui saluran infuse yang ditempelkan ke dalam mulut BK. Entah benar atau tidak, ada lagi cerita bahwa BK ini dapat mendatangkan (mengganti) uang dalam jumlah hingga 2-4 milyar rupiah apabila “disempurnakan” oleh seorang Kyai di Ponpes Gontor di daerah Ponorogo. Maka jenis benda pusaka ini sering menjadi buruan orang-orang yang mempercayainya. Selain katanya karena khasiat atau keampuhannya yang dahsyat. Semua cerita itu menjadikan BK memiliki nilai ekslusif dan berharga mahal hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
Terlepas dari semua cerita di atas, saya mengalami peristiwa secara tidak sengaja, terjadi pada 1 Januari tahun 2007 di Jakarta. Peristiwa ini saya anggap mempunyai pelajaran yang sangat berharga, dapat membuka makna akan rahasia gaib dan sangat berarti dalam memahami hakekat kehidupan ini secara lebih mendalam.
“PENAMPAKKAN” DI BALIK RUMAH RUNTUH
Saat itu bertepatan dengan malam tahun baru 2006/2007 kami semalam mengundang group musik keroncong untuk berdendang bersama rekan-rekan. Semalam kami berdendang hingga habislah suara buat cuap-cuap menjadi penyanyi dadakan semalam. Paginya sekitar jam 10.00 wib kami dikejutkan oleh gemuruh rumah runtuh yang berasal dari bangunan rumah tepat di depan tempat kami tinggal. Rumah satu lantai tetapi menjulang tinggi seolah berlantai dua. Kami berusaha menolong para penghuninya, dan ternyata yang ada dirumah itu seorang ibu rumah tangga yang kami kenal sebagai pemilik rumah tersebut. Walaupun keadaannya di seluruh badannya sudah penuh dengan debu reruntuhan, sehingga seluruh tubuhnya berwarna putih kecoklatan, tetapi masih bersukur terhindar dari maut. Sementara rumahnya masih dalam keadaan bahaya karena sebagian bangunannya yang masih berdiri kemungkinan akan segera menyusul roboh. Ibu tersebut kami suruh berlindung dahulu ditempat kami. Para tetangga berkerumun tetapi takut untuk mendekati rumah itu karena khawatir akan terjadi runtuh susulan. Setelah dua jam para tetangga membubarkan diri, keadaan telah sepi tinggal kami berempat. Saya kaget, tiba-tiba di balik reruntuhan rumah itu muncul “penampakan” sosok lelaki yang kami ketahui sebagai tukang ikan di pasar terdekat. Kami kaget kok ada orang lain di dalam, padahal menurut si Ibu empunya rumah dia berada sendirian di dalam rumah karena suaminya baru singgah di rumah istri ketiganya…wah wah, kasian betul..ibu ini, pikir kami.sudah dimadu, eh ternyata rumahnya malah runtuh. Tanpa mau berapriori, lelaki itu kami panggil agar menjauh dari rumah itu dan berlindung di rumah kami. Ia melompat pintu pagar yang keadaannya digembok dari dalam. Teman kami lihat lelaki itu datang masuk “rumah runtuh” itu sejak semalem kira-kira jam 21.00 wib. Saya hanya berfikir mungkin tukang ikan ini semalem hingga jam 10.00 pagi saat kejadian runtuh, ia sedang mbethet-i (membersihkan) iwak paus sing guedhe tenan, sehingga belum kelar hingga paginya..gitu aja. Yaah..tukang ikan yang mendapat dua kemujuran..patut “disukuri” he he !! kemujuarannya apa saja silahkan anda berandai-andai sendiri yah.
TAMU MISTERIUS DI MALAM HARI
Kembali keee..laptop. Hari sudah gelap, sepi, gerimis rintik-rintik, rumah runtuh yang mirip seperti rumah hantu, berantakan, gelap tak berlampu. Semua penghuninya sudah mengungsi, si Ibu empunya rumah telah dijemput suami yang sejatinya…ehm. Waktu menunjukkan jam 20.00 malam, tak ada angin tak ada gempa, tiba-tiba muncul suara menderit kencang diikuti suara yang lebih bergemuruh ketimbang tadi pagi. Runtuh susulan pikirku. Benar saja, rumah itu bener-bener ambruk, padahal rumah besar itu baru berumur sekitar 8 tahun sejak dibangun.
Jam 22.00 wib. Nggak tahu, kenapa tiba-tiba di kompleks perumahan kami suasananya malah menjadi semakin sepi mencekam, anak-anak kecil biasanya masih berada di taman bermain sebrang rumah. Tapi kali ini sungguh mencekam apalagi bagi anak-anak. Listrik tiba-tiba mati lampu. Gelap, hitam pekat. Lalu terdengar suara seseorang, sepertinya suara seorang kakek-kakek dengan suara bergetar. “kulanuwuuun…den..!” Saya bergegas ke depan rumah yang sepi dan gelap tak terdengar suara angin dan binatang satu pun. Tampak sosok laki-laki itu berdiri di depan pintu. Anehnya..pakaiannya seperti zaman ratusan tahun yang lalu. Siapa gerang kakek ini. Rambutnya telah memutih semua, kulit menghitam keriput, kurus kering, tampak tonjolan tulang belulangnya, agak bungkuk, tetapi baunya seperti ratus (dupa manten).
Saya berfikir, ini bukan lah manusia sembarangan. Saya bertanya pada kakek itu dengan bahasa Jawa halus, ..”Kakek siapa, hendak ke mana, ada perlu apa, adakah yang bisa saya bantu ? kakek itu diam sejenak, sorot matanya sangat tajam memandangku, aku menangkap getaran energi yang sangat besar. Hmmm..kakek ini bener-bener orang linuwih, gumamku dalam hati. Pelan, kakek itu mengeluarkan kata-kata dalam bahasa sansekerta dan Jawa Kawi yang kurang jelas dalam pendengaranku. Aku coba menangkap maksud kakek itu dengan mengerahkan ingatan kosa kata sansekerta dan Jawa Kawi, serta mencoba translasi secara batin. Ternyata kakek itu ingin ikut bersamaku. Belum sampai aku menjawab maksud kakek itu, lalu aku mendengar suara istriku dari dalam kamar, …jangan ikut kami mbah..jangan masuk, silahkan di luar saja ! Aku menangkap apa yang dimaksud istriku. Lalu aku tanyakan..”kakek anda siapa ? Nah..kakek itu menjawab..”saya empu Suna..nak ! Empu pikirku ??? bukankah seorang empu lazim menjadi sebutan nama di masa ratusan tahun yang lalu ? Kami coba lebih konsentrasi lagi, Oh..ternyata..anda itu manusia yang hidup ratusan tahun yang lalu. Si kakek bukanlah badan wadag tetapi badan halus. Lalu aku tanyakan, “..di mana jasad empu dikubur ? jasadku ada di atas lemarimu nak..! Aku bergegas memeriksa di atas lemari di kamarku. Ternyata istriku sudah mengulurkan tangannya, menyerahkan seonggok benda berujud jenglot (BK) kepadaku. “Inikah jasadmu kek ?, tanyaku. Mpu Suno mengangguk. Mpu..terimakasih sampeyan ingin ikut bersama kami, tetapi maafkan kami, seyogyanya Mpu tidak ikut bersama kami, ikut saja orang lainnya mungkin akan membuat Mpu lebih nyaman. Kira-kira apa yang bisa kami lakukan untuk anda..? Kakek itu tampak mengeluarkan air mata. Aku sebenarnya tidak tega, tetapi aku merasa tidak nyaman saja diikuti Mpu Suno.
MPU SUNO BERKISAH MEMILUKAN
Tiba-tiba saja Mpu Suno lenyap dari pandangan mataku. Listrik yang padam kembali menyala. Tetapi jasadnya yang berujud BK aku bungkus kain kafan kemudian ku taruh di atas lemari. Aku masih berfikir harus bagaimana bersikap. Besok malamnya, sekitar jam 00.00 Mpu Suno hadir kembali. Aku lihat ia menunggu di teras depan rumah. Ku hampiri Mpu Suno, sekalian kubawakan teh manis untuknya. Tapi Mpu Suno menolak…”terimakasih nak, saya sudah tak bisa makan minum seperti manusia umumnya, melainkan harus makan (minum) darah, bukan darah manusia tetapi darah binatang di mana saja yang dapat saya ketemukan.
“Kenapa Mpu Suno nasibnya sedemikian rupa, dan sampeyan hidup pada abad berapa ?. Jawab Mpu,”..aku hidup kira-kira sudah 1400 tahun yang lalu nak, saya termasuk orang yang sangat sakti mandraguna sulit mencari tandingannya. Karena kesaktianku yang sangat tinggi itu membuat ku merasa takabur, menjadi tak percaya lagi pada Hyang Wisesa (Tuhan). Selain itu aku juga memiliki ilmu keabadian, agar supaya badanku kekal tak akan mati. Aku berfikir dan bertanya dalam hati, tiap orang semakin tua usianya maka badannya semakin pendek dan mengecil pula, apakah Mpu Suno yang panjang badannya hanya tinggal 5 cm itu karena sudah hidup selama 1400 an tahun ? entahlah.
Aku beranikan diri untuk bertanya,”Mpu…kenapa anda tidak meninggal dunia hingga saat ini ? Jawab Mpu Suno mengejutkan,”…hingga saat ini aku tak bisa mati nak, tetapi keadaanku sangat tersiksa, aku tak bisa makan selain darah yang menjijikkan, aku tak bisa mati dan bumi pun menolak jasadku, sehingga jasadku tak membusuk dan hancur kembali menjadi tanah. Semua sudah menjadi karma Hyang Suksma atas semua kesalahanku yang teramat berat mengingkari Hyang Suksma dan “gegulangan” ilmu keabadian. Maka setiap hari tiada henti aku hanya memohon ampunan kepada Hyang Suksma supaya bisa mati, dan jasadku diterima bumi.
MEMINTA “DISEMPURNAKAN”
Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk Mpu Suno ? Jawabnya,”…nak…jika berkenan, mungkin orang seperti istrimulah yang bisa menolongku ? menolong bagaimana Mpu ? tanyaku kepada BK yang namanya Mpu Suno itu. Mpu Suno melanjutkan, ”…menolongku untuk memohonkan ampunan kepada Hyang Wuhud (menyempurnakan) agar aku bisa mati. “Baiklah Mpu, kami akan berusaha menolongmu, tetapi semua tentu tergantung kemurahan Gusti Allah”, sergahku. Mpu Suno menyergah juga, “..Allah itu siapa nak ? Lho..Mpu tidak tahu to, Gusti Allah itu Tuhan pencipta alam semesta. Oo, maaf nak, di jamanku dahulu tidak pernah mendengar nama itu, aku sekarang mengerti, Gusti Allah itu tidak lain Hyang Wuhud Hyang Suksma, hanya berbeda cara menyebut manusia jaman dahulu dan sekarang.
Entah kenapa tiba-tiba Mpu Suno menghilang lenyap. Aku terheran-heran, ini bukan mimpi bukan juga khayalan. Mengapa bisa terjadi dan kualami hal aneh seperti ini. Aku menyesal lupa tidak aku tanyakan, mengapa kehadiran Mpu bersamaan dengan peristiwa rumah ambruk itu ??? adakah kaitannya ??
Belum lama aku berfikir dan bertanya dalam hati, dan siap melangkah masuk rumah, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang ganjil di belakangku, aku toleh kebelakang rupanya Mpu Suno datang lagi dan berkata, “…nak, aku di sini karena dahulu aku dimiliki si …. (Mpu Suno menyebutkan nama suami si Ibu empunya rumah ambruk). Aku dijual dengan harga ratusan juta kemudian uang hasil penjualan jasadku dibelikan rumah yang sekarang ambruk itu. Aku tak bisa berkata-kata lagi, hanya terkesima. Dan Mpu Suno tahu-tahu sudah lenyap lagi.
Aku beranjak masuk ke dalam rumah, kuceritakan pada istri kejadian tadi, tetapi rupanya istriku sudah mengetahui juga. Malah sudah menyusun rencana kapan akan mencoba “menyempurnakan” Mpu Suno. Dipilihlah hari Senin untuk melakukan doa penyempurnaan. Aku tak pernah tahu dan tak menguasai bagaimana doa, rapalan, mantra penyempurnaan (permohonan ampunan) itu. Namun di hari Rabu jam 21.30 wib, Mpu Suno datang lagi saat aku nyetir di jalan tol menuju arah Bintaro sektor 9. Ia mengatakan jika besok hari Sabtu Pahing sudah akan “pergi”. Pergi ke mana aku masih mikir-mikir agak telmi. Mungkinkah Gusti Allah sudah menerima permohonan ampunan ini, sehingga Mpu Suno sudah akan “pergi”. Mudah-mudahan begitu. Istriku pun belum tahu apakah doanya dikabulkan Gusti Allah atau tak dikabulkan. Karena memang belum melihat tanda-tanda “isyarat” dari Tuhan. Sabtu Pahing, sebagai hari yang paling tepat untuk menyempurnakan semacam BK. Misteri Sabtu Pahing, memang acap kali ada hal-hal berhubungan dengan jenglot atau BK selalu tepat hari Sabtu Pahing, tetapi aku tak mengerti mengapa bisa demikian. Entahlah.
SETELAH MENDERITA 1400 TAHUN MPU SUNO DITERIMA BUMI & TUHAN
Hari Sabtu Pahing yang ditunggu-tunggu akhir datang juga. Waktu menunjukkan jam 20.00 wib, aku merasakan hal aneh dan ingin sekali keluar menuju halaman rumah. Benar, ternyata Mpu Suno sudah menunggu di sana. Ku coba mendekati Mpu Suno berdiri di sudut taman rumah tepat di samping pohon rindang tabib buya dan melati yang sedang berbunga lebat dan harum semerbak baunya. Tempatnya memang agak gelap karena tak tertimpa sinar lampu taman. Ia sepertinya ingin sekali menyampaikan sesuatu kepadaku. Benar saja, Mpu Suno menyampaikan pesan sebagai berikut;
“..nak, andai kelak menjadi orang pinunjul dan sakti seberapapun besar kesaktian hendaknya jangan sampai seperti saya yang lupa diri tidak mengakui Gusti Allah (kali ini Mpu mengikuti istilahku), apalagi gegulangan ilmu keabadian”. Akhirnya aku dapatkan karma, sekian ribu tahun hanya penyesalan yang ada, selalu mohon ampunan kepada Tuhan tak pernah aku dapatkan. Mungkin kali ini sudah menjadi garisNya aku bertemu angger dan istri.
Aku sempat bertanya apa yang menjadi pikiranku sedari tadi,”..apakah Mpu Suno telah cukup menebus semua kesalahan dengan penderitaan ribuan tahun lamanya, sehingga kelak di sana Mpu sudah lepas dari alam pembalasan ?” Oh, tidak nak angger…aku baru dikabulkan bisa mati saja sudah merupakan kanugrahan agung. Kelak aku belum tahu nasibku, aku merasa tetap akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku di alam pembalasan. Aku tak bisa balas budi kepada istrimu dan nak ngger, Gusti yang akan membalas kebaikan semuanya.
Sebelum berpisah, kiranya apakah aku boleh bertanya kepada Mpu ? Rupanya Mpu sudah membaca pikiranku, lalu menyergah dengan jawaban yang betul-betul aku tunggu, “nak..aku ini setiap saat yang ada hanya penyesalan, hanya memohon ampunan Gusti saban hari tiada henti. Cerita-cerita tentang sebangsaku yang dianggap benda keramat dan pusaka ampuh, itu tidak benar, atau bisa menukar dengan uang bila disempurnakan, itu semua tidak benar, sebangsaku ini tak bisa berbuat apa-apa lagi nak…! aku diperjualbelikan karena bodohnya manusia sendiri. Memang ada sebangsaku yang tetap tidak “eling” sehingga tetap saja neko-neko mau dipiara manusia hanya demi mendapatkan makan”. “Nak…sekali lagi terimakasih, aku sekarang hendak “pergi” Gusti Allah telah berkehendak memanggilku”. Selamat tinggal nak, ingat pesanku yang satu, selalu eling dan waspada, jangan sampai menjadi manusia seperti aku ini, mengejar nafsu adigang adigung adiguna, sombong kepada Gusti, dan ternyata berakhir dengan penderitaan berat sepanjang masa”. Kini bumi telah bersedia menerima jasadku”.
Tiba-tiba bayangan Mpu Suno raib. Mpu Suno telah pergi meninggalkan dunia. Aku teringat benda berujud jenglot atau BK yang kuletakkan di atas lemari. Bergegas aku masuk kamar, kuperiksa jenglot di atas lemari ternyata juga sudah raib entah ke mana.
sabdalangit.

Rabu, 25 Agustus 2010

KUNCI KEBERHASILAN HIDUP


KUNCI KEBERHASILAN HIDUP
Perubahan dunia yang sangat pesat membuat persaingan hidup semakin meningkat. Para orangtua saat ini berlomba-lomba untuk memberikan bekal pendidikan, yang dipercayai sebagai bekal terbaik bagi anak yaitu pendidikan. Asumsi orangtua pada umumnya adalah semakin tinggi level pendidikan formal maka akan semakin terjamin masa depan anaknya. Apakah benar demikian?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu melihat ke sekeliling kita. Berapa jumlah sarjana yang "ngganggur"? Berapa jumlah lulusan luar negeri, yang setelah pulang ke Indonesia, tidak bisa bekerja atau tidak berhasil? Berapa banyak yang lulus cum laude namun prestasi hidupnya biasa-biasa? Sebaliknya ada banyak orang yang prestasi akademiknya biasa-biasa namun prestasi hidupnya sangat luar biasa. Jadi, sebenarnya prestasi akademik bukan merupakan jaminan keberhasilan hidup.

Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah:

Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia?

Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.

Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah ter-install akan masuk di pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya.

Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan "nasib" anak selanjutnya. Sering kali proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak.

Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.

Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal

RUMAH TANGGA YANG BERANTAKAN GARA-GARA....


Rumah Tangga Berantakan Karena PLR

Artikel ini saya tulis dengan keprihatinan mendalam terhadap kasus hipnoterapi yang menurut hemat saya masuk dalam kategori malpraktik yang berakibat sangat buruk terhadap klien. Besar harapan saya setelah membaca artikel ini kita semua bisa lebih hati-hati dan arif dalam bertindak, baik sebagai klien maupun hipnoterapis, agar kasus seperti ini tidak terulang lagi.

Beberapa bulan lalu saya mendapat cerita dari salah satu murid saya yang menangani seorang pria yang depresi akibat ditinggal oleh istrinya setelah sang istri, sebut saja Ani, menjalani sesi “hipnoterapi” dengan seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta.

Minggu lalu saya mendapat cerita dari murid saya yang lain yang mengatakan bahwa seorang suami, sebut saja sebagai Anto, meninggalkan istrinya juga setelah menjalani sesi “hipnoterapi”. Setelah bertanya lebih dalam akhirnya diketahui bahwa hipnoterapis yang menangani kedua kasus ini adalah hipnoterapis yang sama dan menggunakan teknik terapi yang sama.

Saya sungguh prihatin dengan apa yang dilakukan hipnoterapis ini karena menurut hemat saya ini sudah masuk kategori malpraktik yang sangat fatal.

Cerita lengkapnya begini. Pada kasus pertama, Ani bertemu dengan hipnoterapis ini untuk menjalani Past Life Regression (PLR). Alasan Ani adalah ia ingin mengetahui siapa soulmate-nya di kehidupan lampau. Tanpa bertanya lebih mendalam, menggali lebih detil alasan dan tujuan klien meminta PLR, hipnoterapis ini langsung melakukannya.

Singkat cerita soulmate Ani di “kehidupan lampau” ternyata bukan suaminya yang sekarang, di kehidupan ini. Soulmate-nya adalah pria lain, yang kebetulan ia kenal. Setelah mengetahui siapa soulmate-nya akhirnya Ani memutuskan meninggalkan suaminya dan memilih “melanjutkan” hubungan asmaranya dengan soulmate-nya. Ck.. ck… ck.. ini sungguh tidak masuk akal dan merusak kehidupan rumah tangga. Suami Ani shock dan kaget karena tiba-tiba ditinggal istrinya akhirnya mengalami depresi.

Pada kasus kedua, ceritanya lebih seru lagi. Setelah menikahi seorang gadis di kota kecil, Anto memilih untuk merantau ke Jakarta untuk bekerja dan mengadu nasib. Baru beberapa bulan di Jakarta ternyata Anto tertarik pada wanita lain. Semakin lama Anto semakin erat hubungannya dengan WILnya dan mulai tidak lagi menghiraukan istrinya.

Selanjutnya Anto bersama dengan WILnya menemui hipnoterapis ini dan meminta untuk dilakukan PLR. Saat ditanya oleh si hipnoterapis apa tujuan dilakukan PLR mereka menjawab untuk mengetahui apakah di kehidupan lampau mereka punya hubungan khusus atau tidak.

Informasi apa yang didapat setelah dilakukan PLR pada Anto dan WILnya?

Luar biasa. Ternyata “benar”, Anto dan WILnya di kehidupan lampau adalah soulmate. Berdasar temuan yang sangat meyakinkan ini Anto selanjutnya menelpon istrinya dan menyampaikan bahwa ia tidak bisa putus hubungan dengan WILnya karena wanita yang menjadi WILnya adalah seseorang yang istimewa, soulmatenya dari kehidupan lampau. Dan sejak saat ini pula Anto tidak lagi pernah menghubungi istrinya.

Sampai saat ini status hubungan Anto dan istrinya tidak jelas. Apakah masih akan terus ataukah pisah.

Pembaca, apa yang dilakukan oleh hipnoterapis ini sungguh suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab dan sangat merusak keutuhan keluarga dan rumah tangga.

Mari kita bahas satu per satu. Pada kasus pertama, dari mana si hipnoterapis tahu bahwa benar pria yang dijumpai Ani di “kehidupan lampaunya” benar-benar adalah soulmatenya. Bisa jadi rumah tangga Ani kurang harmonis, ada masalah, dan ini adalah alasan bagi Ani untuk meninggalkan suaminya.

Apakah si hipnoterapis benar-benar bisa menjamin apa yang Ani alami adalah benar-benar pengalaman PLR ataukah sekedar hasil rekayasa atau ciptaan pikiran sadar Ani? Bisa jadi Ani memang berniat meninggalkan suaminya, sudah punya PIL.

Kasus kedua lebih parah lagi. Dalam hal ini hipnoterapis tidak cermat, tidak hati-hati, tidak profesional, dan hanya bekerja berdasarkan orderan. Logika berpikirnya sederhana. Kalau dua orang lagi jatuh cinta maka emosi cinta ini akan mempengaruhi baik pikiran sadar maupun bawah sadarnya. Jika lagi jatuh cinta maka tanpa PLR pun mereka bisa yakin 1.000% kalau mereka ini adalah soulmate. Lalu, buat apa lagi dilakukan PLR?

PLR yang dilakukan oleh si hipoterapis ini justru digunakan oleh Anto dan WILnya untuk membenarkan perbuatan mereka dan dijadikan alasan yang kuat dan masuk akal bagi Anto untuk meninggalkan istrinya.

Murid saya pernah bertanya, “Pak Adi, jika misalnya Bapak yang menangani kasus seorang wanita yang bertemu soulmatenya di kehidupan lampau dan ternyata soulmate-nya ini bukan suaminya di kehidupan sekarang, apa yang akan Bapak lakukan?”

Yang pertama, saya harus menegaskan ulang bahwa saya dan semua alumni QHI tidak diperkenankan melakukan PLR berdasarkan pesanan. PLR yang terjadi, kalaupun ada, adalah yang terjadi secara spontan. Dan dari pengalaman profesional saya sebagai hipnoterapis, dari lebih dari 1.000 kasus terapi personal yang saya tangani, yang mengalami PLR spontan tidak lebih dari 12 (dua belas) kasus saja.

Nah, sekarang kembali ke pertanyaan murid saya. Apa yang akan saya lakukan?

Jawaban saya selalu sebagai berikut: Saya akan menaikkan perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya setingg-tingginya, dan setelah itu saya akan melakukan Ctrl-A, Ctrl-C, dan Ctrl-X perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya ini dan saya pindahkan semuanya ke suaminya yang sekarang. Sehingga klien akan menjadi sangat cinta dan sayang pada suaminya, yang sekarang, dan menjadi hambar dengan soulmate-nya. Case closed.

Mengapa tindakan ini yang pasti saya lakukan? Prinsip hidup saya menyatakan bahwa keutuhan rumah tangga harus dipertahankan dan ditingkatkan. Dengan demikian bila suatu rumah tangga ada masalah maka kita, hipnoterapis, dengan semua pengetahuan, pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan teknik yang kita kuasai, harus membantu memulihkan kembali keutuhan rumah tangga ini. Tentu kami tidak bisa memaksa jika tidak ada komitmen dari kedua pihak, suami dan istri. Perpisahan orangtua selalu menimbulkan luka batin dalam diri anak-anaknya dan ini perlu dicegah.

Menurut hemat saya cerita tentang soulmate dari kehidupan lampau adalah alasan yang dicari-cari agar seseorang bisa melepas tanggung jawab untuk komit membina rumah tangga dan membahagiakan pasangannya.

Apakah benar kita bisa melakukan “transfer” perasaan? Bisa dan mudah. Semua hanya permainan pikiran. Tinggal teknik apa yang kita gunakan dan bagaimana caranya kita melakukannya.

Dari hasil diskusi dengan rekan sejawat saya, para hipnoterapis QHI, kami memutuskan untuk lebih berhati-hati menangani kasus rumah tangga atau perselingkuhan. Bila ada klien yang meminta kami untuk menghilangkan perasaan sayang, kasihan, atau cinta pada PIL atau WIL-nya, karena klien sekarang sadar dan sudah mau kembali ke pasangannya yang sah, maka kami pasti akan meminta klien untuk menunjukkan KTP, Surat Nikah, dan KSK.

Mengapa demikian? Bisa jadi klien berbohong. Yang ia katakan PIL atau WIL bisa jadi adalah pasangannya yang sah. Klien ingin menghilangkan perasaan cinta atau sayang terhadap pasangannya karena ia ingin hidup bersama selingkuhannya. Kalau ini yang terjadi maka kita hipnoterapis juga ikut andil dalam rusaknya rumah tangga klien.

Dengan teknik tertentu kami bisa menetralisir atau memunculkan perasaan tertentu, baik yang positif maupun yang negatif, dalam diri klien.

Kembali pada dua kasus di atas. Saran dan himbauan saya pada para pembaca semua agar lebih berhati-hati saat memilih hipnoterapis.

Pastikan hipnoterapisnya adalah yang kompeten, bertanggung jawab, berpengalaman, dan yang terutama melakukan hipnoterapi dengan kesadaran dan integritas yang tinggi yang ditujukan untuk kebaikan klien.

Selain itu, jangan ke hipnoterapis dan meminta untuk dilakukan PLR. Mengapa? Karena PLR yang anda alami belum tentu PLR yang sesungguhnya. PLR yang dilakukan oleh hipnoterapis umumnya bersifat leading, mengarahkan pikiran anda dengan memberikan perintah atau sugesti tertentu. Jadi, anda bukannya sungguh-sungguh mundur ke kehidupan lampau anda, bila benar ada past life, tapi anda mencipta kehidupan lampau di pikiran anda berdasar ekspektasi anda dan bimbingan hipnoterapis. Dengan demikian anda mengalami false memory. Ini sangat berbahaya dan merugikan diri anda sendiri. .

W A K TU D U N I A