Minggu, 18 Desember 2011

KUNCI SUKSES DALAM PERGAULAN

KUNCI SUKSES PERGAULAN
“MUTIARA KATA”
KIAT SUKSES DALAM PERGAULAN DAN BERMASYARAKAT
SABDA PUJANGGA
(Tiada orang disebut hidup, kecuali yang peduli serta belas kasih kepada sesama yang tak berdaya dan menderita. Dapat merasakan penderitaan serta kesengsaraan orang lain. Dengan dimilikinya rasa seperti itu, berarti mampu memelihara kekuatan yang tiada batasnya, diperlukan untuk menolong sesama yang keadaannya lebih mengenaskan ketimbang diri pribadinya. Perbuatan adalah milik kita sendiri, namun buah dari perbuatan kita menjadi milik Tuhan. Begitulah sabdanya salah satu Pujangga terkenal.)

ESENSI MAWAS DIRI
(Orang yang pandai membawa diri itu orang yang bisa menyatu, melebur, dan meleleh, memahami situasi dan kondisi, selaras dengan suasana disekelilingnya tanpa meninggalkan sopan santun. Peribahasanya orang yang pandai mempercantik diri, jangan hanya terfokus dengan keindahan pakaian saja. Namun dapatlah selalu berusaha bermuka ramah dan tutur kata manis tanpa meninggalkan perilaku yang lembut dan pantas)

TIDAK HARUS HARTA
(Tercapainya suatu cita-cita tidak cukup hanya bermodalkan kemewahan dan lengkapnya ilmu dan pengetahuan saja. Namun ada satu syarat yang tak boleh ditinggalkan yakni kepandaian dalam bergaul. Siapa yang bisa beradaptasi dan dapat menumbuhkan rasa tenteram kepada orang lain, sebenarnya sudah mendapat modal untuk melaksanakan banyak pekerjaan dan menggapai cita-citanya)

LEBIH BERHARGA DARIPADA EMAS PERHIASAN
(Melakukan kebaikan tidak harus mengeluarkan beaya, namun dapat dilakukan dengan perbuatan-perbuatan lain yang sebenarnya banyak sekali caranya. Asal bisa membuat senang dan tenteram orang lain, umpama saja dengan bermuka ramah serta bergaul dengan hangat, bisa beradaptasi di tengah pergaulan, dan dapat menjadi percontohan perilaku yang utama. Semua itu termasuk berbuat kebaikan yang nilainya melebihi sedekah harta yang diberikan ataupun yang dipinjamkan, apalagi disertai dengan pamrih)

BICARALAH YANG BENAR, MANIS, BERMANFAAT
(Bila kamu akan berembug, pikirkan terlebih dulu kata-kata dan kalimat yang akan kamu ucapkan. Apakah sudah memperhatikan 3 kaidah penting; benar, manis, bermanfaat. Walau begitu, yang benar itu masih perlu ditimbang lagi, jika mengakibatkan masalah untuk orang lain lebih baik urungkan. Lain halnya dengan tutur kata manis, tidak punya pamrih, pamrihnya hanya dapat membuat bahagia orang lain, akhirnya bermanfaat untuk kehidupan bersama)

TIDAK SETIAP DIAM ITU EMAS
(Banyak bicara untuk menghidupkan suasana pertemuan memang baik, namun bicara hanya untuk mencari perhatian dan simpati pada diri sendiri, akan sering lepas kontrol dan membuka aib diri sendiri. Sudah seberapapun orang terpeleset hidupnya hanya gara-gara gemar membual. Maka sebaik-baiknya orang itu bukan seperti orang yang diam, namun diamnya orang yang memiliki bobot yang dapat menjadi tempat yang tepat bagi orang yang membutuhkan nasehat dan petunjuk)

MERASA DIRI PALING ADALAH PINTU KEHANCURAN
(Dalam dunia pergaulan seyogyanya menghindari sifat sombong dan watak yang selalu membesar-besarkan diri sendiri. Sifat dan watak tersebut biasanya menimbulkan perasaan tidak rela jika menemukan orang lain yang lebih dari dirinya. Maka alangkah baiknya bilamana siapapun yang merasa paling pinter, paling kaya, dan paling berkuasa hendaklah mengendapkan hati, mengheningkan cipta, bahwa sebenarnya masih ada lagi yang Maha Pandai, Yang Maha Kaya, Yang Maha Tinggi. Dengan begitu sikap mentang-mentang dan takabur yang menjadi batu sandungan dalam pergaulan akan menyingkir).

KASIH SAYANG ADALAH KUNCI KESUKSESAN
(Lebih baik bekerja tanpa perilaku yang dapat merusak keharmonisan pergaulan, daripada tindakan orang yang maksudnya melaksanakan perbuatan mulia tetapi sambil bertengkar. Sebenarnya ketentraman itu tidak akan terwujud bila tanpa didasari kerukunan, sedangkan kerukunan itu hanya bisa diciptakan jika satu sama lain saling hormat menghormati dan asih-mengasihi).

MENGATASI TUDUHAN BURUK
(Bila hatimu sudah bertekat bulat akan berbuat kebaikan untuk kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, jangan hiraukan kekhawatiran akan tuduhan buruk yang tidak benar. Landasilah dirimu dengan dada yang lapang, hati yang sabar, supaya dapat menumbuhkan besarnya wibawa dan sirnanya semua keburukan)

NASEHAT TERBAIK ADALAH PERBUATAN
(Tutur kata yang keluar secara tertata runtut yang berupa nasehat tentang ajaran yang baik, nilainya memang melebihi emas perhiasan, dapat menggugah budipekerti dan menghidupkan fikiran. Tapi perhatikanlah, bahwa semangat berfikir dan hidupnya jiwa itu tidak dapat hanya sekedar dibangun melalui tutur kata saja. Yang lebih penting yakni tutur kata yang dibarengi perbuatan sebagai suri tauladan)

CIRIKHAS ORANG LEMAH GEMAR UNJUK DIRI
(Lebih baik bersikap merendah daripada unjuk kepandaian yang kenyataannya masih mengecewakan sekali. Unjuk kepandaian itu sesungguhnya hanya untuk menutupi kebodohannya, semua itu karena perasaan khawatir dan was-was pabila ada orang lain yang mengunggulinya. Tabiat seperti itu menjadi salah satu godaan yang hanya akan menghambat kemajuannya sendiri dalam pergaulan).

MANAJEMEN PUJIAN
(Siapa yang tidak suka jika mendapat pujian. Tetapi tumbuhnya pujian itu tidak mudah. Harus ditempuh melalui perbuatan yang baik dan bermanfaat buat orang banyak. Jika hanya ditempuh dengan harta, pujian hanya sampai di bibir saja tidak menyentuh di hati. Jika ditempuh dengan perbuatan demi pamrih, di belakangnya hari akan tersingkir dan disingkirkan dalam pergaulan).


TABIAT BURUK PALING POPULER
(Kenyataannya banyak orang yang suka mencela orang lain dan memuji diri sendiri ? Sebabnya tidak lain karena orang-orang seperti itu tidak peduli bila perbuatan itu termasuk watak yang tidak terpuji, makanya perlu diperingatkan. Sebab bila tidak segera menghindari watak yang tidak baik itu, berakibat dia sendiri akan dijauhi dalam pergaulan).

PRINSIP KESEIMBANGAN LAHIR-BATIN
(Menggapai keluhuran artinya berupaya meraih tataran hidup yang lebih tinggi. Luhur lahir dan batinnya, bermanfaat untuk diri sendiri juga berguna untuk keharmonisan dalam pergaulan. Namun bila mandeg salah satunya, artinya pincang. Bila hanya mengutamakan keluhuran lahir sama halnya mengejar derajat dan pangkat, mudah goyah (plin-plan) mudah terpengaruh oleh kemewahan dari luar. Bila menyepelekan keluhuran batin saja, jelas tidak mematuhi hakekatnya sebagai manusia, karena tidak mengindahkan kaidah pergaulan. Berarti tiada guna hidup di dunia).

KEJUJURAN ADALAH ANUGRAH
(Barangsiapa merasa memiliki kesalahan, jangan malu merubah kesalahan yang sudah kadung terjadi. Sedangkan mengakui kesalahan sudah jelas bukan perbuatan hina, namun malah menunjukkan watak yang utama yang tidak mudah dilakukan sementara orang. Orang yang sudah memiliki watak bersedia mengakui kesalahannya adalah pantas disebut orang yang jujur serta mendapat anugrah menjadi orang yang luhur budi pekertinya.

SUBSTANSI KEMERDEKAAN
(Manusia itu hidup sebisanya menguasai kemerdekaan lahir dan batin. Kemerdekaan lahir artinya dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari hasil dari keringat sendiri, dan hasil dari jerih payah sendiri tidak tergantung pada orang lain, serta tidak menjadi beban bagi pihak lain. Sedangkan kemerdekaan batin adalah dengan cara menyingkirkan hawa nafsu, jauh dari kehinaan dan kenistaan budi pekerti, tiada berpamrih dan iri dengki, serta setia dan patuh kepada kaidah kerukunan hidup).

RAHASIAKAN KEBISAAN
(Apabila ingin dihormati sesama, jangan suka berkoar-koar, apalagi sampai pamer kebisaan dan kelebihanmu. Penilaian orang lain (padamu) sesungguhnya tidak perlu kamu kejar, karena akan datang dengan sendirinya. Menunjukkan kepandaian memang harus bisa melihat situasi dan kondisi. Maka seyogyanya rahasiakan jangan sampai orang lain dapat menjajagi. Namun pada saatnya menghadapi pekerjaan berhasil menuntaskan).

KAMBING HITAM ITU TAK PERNAH ADA
(Jangan suka menyalahkan, bahkan mengungkit-ungkit orang lain, pada saat tidak kesampaian apa yang menjadi kehendak kita. lebih baik kita teliti dan carilah apa yang salah dengan diri kita, supaya kita bisa lepas dari pengaruh prasangka buruk. Ketahuilah, bahwa kelemahan dan kekurangan yang menyebabkan kegagalan harapan kita itu tidak lain berada pada diri kita sendiri)

PENDERITAAN SEPANJANG MASA
(Jarang ada orang yang merasa puas pada apa yang sudah dapat berhasil dicapai. Bila merasa kurang masih akan menambah, jika telah mendapatkan lantas mencari lebihnya, bila sudah berlebih lantas berupaya agar jangan ada orang lain yang bisa menyamai. Orang yang bertabiat demikian sesungguhnya sangat kasihan. Hidup selalu memaksakan diri, hatinya tidak pernah tenteram. Untuk menuruti watak yang buruk itu kadangkala bertindak tidak semestinya dan meleset dari watak yang benar)

SIKAP MENERIMA BUKANLAH MALAS
(Watak menerima tentu menjadi kekasih Tuhan, namun apabila sampai keliru memahaminya bisa menimbulkan kesalahan dalam bertindak. Menerima, artinya tidak melebihi batas kemampuan tetapi tidak kurang akal dan selalu memberdayakan diri supaya tercapailah cita-cita. Menerima bukan dimaksudkan sebagai tidak mau kerja dan enggan berusaha. Karena yang seperti ini bukanlah arti menerima, melainkan malas. Wataknya pemalas itu hanya mau enaknya saja, tidak mau jerih payahnya, bersedia makan tidak mau modal, sepantasnya lah menjadi orang yang tidak tahu malu, disingkirakn dalam pergaulan).


KE-AKU-AN MENJADI SUMBER KONFLIK
(Hidup dalam kerukunan masyarakat itu memang sulit, harus bisa meredam ke-aku-an, jangan semaunya sendiri dan menuruti hawa nafsu. Terlebih lagi di kelak kemudian hari, dunia pergaulan internasional penuh persoalan, perselisihan silih berganti, berebut benarnya sendiri. Yang paling penting dalam menjalani hidup harus bisa membuka penghalang yang menutup kesadaran fikir. Maksudnya, walaupun dalam perselisihan, harus bisa menahan gejolak ke-aku-an, berikhtiyar agar perbedaan pendapat bisa disatukan).

CIRIKHAS INGIN MENANGNYA SENDIRI
(Orang yang mempunyai watak selalu ingin mencari menangnya sendiri itu, tumbuh kebiasaannya buruk senang mencela dan menyalahkan pendapat serta tindak tanduk orang lain. Sangatlah bagus bilamana orang seperti itu kadangkala bersedia mencermati dalam batinnya; jangan-jangan aku yang keliru, maka coba aku teliti secara adil siapa yang sesungguhnya jelas-jelas benar)

KUNCI DARI KEINDAHAN
(Keindahan rumah itu bukan terletak pada barang-barang mewah yang mahal harganya, namun tergantung pada penataan perabot yang tidak norak, serta pemasangan hiasan yang jauh terkesan pamer. Begitu pula keindahan diri pribadi itu bukan karena berasal dari tata rias yang indah dan cantik, tapi tergantung pada pakaian yang tidak berlebihan, perilaku yang sopan berwibawa, dan raut wajah yang bersinar)

KIAT MEREDAM AMARAH
(Bila kamu kebetulan sedang emosi dan marah, seyogyanya orang yang kamu marahi tadi suruhlah segera menyingkir. Atau kamu sendiri menyingkirlah sementara, (sementara) jangan bertemu dengan orang lain. Setelah itu diamlah dan hitunglah dengan tenang mulai dari satu sampai sepuluh. Dengan cara begitu hatimu bakal bisa menimbang apakah kemarahanmu pada orang tadi benar, apa bukan kamu sendiri lah yang salah ?)

TRAGEDI KEMATIAN PERASAAN
(Adalah hidup tiada guna bagi orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak bisa memberikan imbal balik dan manfaat ala kadarnya untuk keharmonisan pergaulan. Mati perasaannya, disebabkan tidak terbiasa merasakan apa yang terjadi dalam sehari-harinya, sehingga membuat dangkal budi pekertinya, karena lalai akan rasa kepedulian yang berguna dalam hidupnya).


BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG YANG DIANGGAP SALAH
(Jangan sering memojokan orang lain yang salah, lebih baik tunjukkan kesalahannya sehingga justru bisa mengakrabkan rasa persaudaraan. Walau begitu jangan sampai kamu terburu-buru membenarkan perbuatan orang lain, bilamana kamu sendiri merasa belum mampu mersikap sabar dan peduli sesama. Siapa yang sudah memahami dan menyadari semua dosanya, itulah orang yang sudah mengerti akan hakekat manusia, manusia yang utama).

OBYEKTIFITAS HARGA DIRI
(Harga diri manusia itu terbentuk oleh karena wataknya sendiri, bukan dibawa dari keturunan, kepandaian, dan kekayaannya. Namun tergantung dari cara menggunakan kepandaian dan kekayaannya, serta penerapan perwatakannya untuk pergaulan (tali persaudaraan. Semua itu bila hanya digunakan untuk keperluan pribadi saja, tiada bermanfaat. Tetapi bila watak tadi terdorong oleh keinginan mencari ketenaran, mencari pangkat dan kemewahan duniawi, justru dapat menjadi malapetaka dalam tali persaudaraan, karena mencari-cari kesempatan dengan cara menyamar mencatut nama orang banyak).

KEMULIAAN PALING TINGGI
(Tiada budipekerti yang lebih mulia selain mencintai nusa dan bangsanya sendiri. Karena tumbuhnya kesadaran akan kewajiban menata ketentraman negara dengan modal kepandaian yang didasari kebijaksanaan budipekerti. Pertanda kesungguhan cintanya yakni selalu siap siaga sewaktu-waktu bilamana ada tugas yang sangat penting untuk sesama warga, hingga selalu siap siaga menjaga keselamatan persaudaraan dan kesejahteraan negara)

TEMPAT MENGABDI PALING IDEAL
(Orang yang sering mendapat nasehat dari orang lain biasanya dapat menjadi orang yang suka berhati-hati, namun apabila terbentur suatu tanggungjawab justru tidak bisa bertindak dan menuntaskannya sendiri. Terpaksa masih harus menoleh-noleh orang lain yang dianggap dapat memberi petunjuk. Maka dari itu seyogyanya mengabdilah pada nurani dan kekuatanmu sendiri, sebab orang lain itu sesungguhnya bila terjadi apa-apa hanya bisa melihat saja)

KEPADA SIAPA BERPAMER KELEBIHAN
(Orang yang merasa dirinya lebih dari yang lain, pada suatu waktu hatinya akan terdorong memamerkan kelebihannya, supaya diketahui orang banyak bahwa dirinya mempunyai kelebihan dan supaya dihormati. Ketahuilah, semua kelebihan tadi bila tidak digunakan dengan pengorbanan yang bermanfaat untuk rasa persaudaraan, maka kelebihannya tiada berguna, bisa jadi justru membuat tidak dihormati dan mengakibatkan kesengsaraan. Maka idealnya jadikan buah ketulusan, walau betapapun hebat kelebihan itu hanya diperlihatkan kepada batinnya sendiri, itu sudah cukup)

MENOLONG BELUM TENTU TERPUJI
(sedekah pada orang yang sedang berduka nestapa itu perbuatan terpuji, yang patut dijadikan tauladan, asalkan pemberian tersebut tidak dibarengi sikap ngedumel yang membuat pudar keikhlasan di hati. Kalimat dan tutur kata yang sopan santun, rendah hati dan melegakan hati itu lebih besar nilainya dari pada sedekah yang tidak ikhlas. Lebih dari itu menolong dan memberi pencerahan jiwa orang yang sedang mengalami musibah sesungguhnya lebih perlu dan penting daripada hanya menolong secara lahiriahnya saja)

JAGA INTONASI
(Muka ramah, tingkah laku tenang dibarengi ungkapan yang sopan dapat meruntuhkan hati serta menjauhkan godaan setan (hawa nafsu). Sebaliknya watak bicara keras, selain dapat membangkitkan amarah, juga mudah menimbulkan salah pengertian. Setiap perkara yang sesungguhnya bisa selesai dengan sarana kearifan dan ketenangan, terpaksa menjadi “beradu kuatnya kulit dan kerasnya tulang”, tinggal si “setan” katawa terbahak).

BERSIH HATI MEMBAWA KEBERUNTUNGAN
(orang yang terbiasa hidup tak kenal aturan itu, sewaktu mengalami sedikit saja kesulitan hidup cenderung tumbuh gagasan dan kerjaan yang melawan peraturan, lebih beruntung orang yang hidupnya biasa-biasa saja namun bersih hatinya. Sedangkan seberuntung-beruntungnya orang seperti itu tidak seperti orang yang selalu hidup dalam keadaan yang penuh kebatilan dan angkara, sama halnya bertapa di tengah-tengah cobaan, namun selalu tawakal dan tebal keimanannya kepada keadilan Tuhan Yang Mahakuasa)

KELOLA KEKUATAN
(Sifatnya orang hidup itu pasti mendapat anugrah kekuatan. Yang sudah paham bisa mempergunakannya, sebaliknya yang belum bisa mengerti kurang diajari, maka tidak akan berguna. Namun begitu menggunakan kekuatan tidaklah mudah. Buktinya tidak sedikit kekuatan yang digunakan tidak tepat. Ketahuilah, bila rusaknya kerukunan di antaranya karena watak para-para yang memahami daya kekuatannya, namun tidak dimanfaatkan untuk menggapai cita-cita yang mulia, hanya untuk menuruti dorongan hati angkara)

HAKEKAT CINTA
(Cinta kasih tidak disertai sikap merawat dan menjaga bukanlah sesungguhnya cinta kasih. Dapat disebut cinta kasih yang hanya menuruti hawa nafsu. Terdapat kalimat “cinta itu buta” yakni cinta yang tercemar hawa nafsu. Idealnya harus memegang pepatah “cinta itu memelihara” dapat sejalan dengan tindakan nyata. Rasa cinta yang paling dekat bagi manusia itu terletak dalam dirinya sendiri. Maka, barang siapa yang cinta kepada sesama itu sama halnya cinta pada diri sendiri, artinya siapa yang selalu menjaga dan memelihara keselamatan sesama, sesungguhnya menjaga keselamatan diri sendiri).

BAGAIMANA CARA MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN
(Bergaul dalam bermasyarakat selain harus pandai memilih tempat dan suasana, juga pandai menempatkan waktu dan mawas diri. Jangan menggampangkan mencampuri urusan orang lain sementara kamu sendiri belum mengerti permasalahannya. Lebih baik, bicara sedikit namun mengenai sasaran, itu menunjukkan kualitas pribadi. Pendapat yang panjang lebar tetapi tidak berbobot justru membuat bingung yang mendengar bahkan dapat menjemukan)

BAGAIMANA HARUS MENILAI ORANG
(Bila ajal telah tiba, atau sudah “dipanggil” Tuhan kembali ke zaman keabadian, sesungguhnya baru dapat diberikan nilai kemanusiaan dan perbuatannya sewaktu hidup di dunia. Sedangkan orang-orang yang masih hidup sebaiknya disimak dulu saja, karena belum dapat dinilai, sebab keadaannya masih dapat berubah-ubah. Walaupun kodrat manusia merupakan makhluk yang paling mulia, maka sudah seharusnya kita menjaga jangan sampai seperti binatang, kematiannya hanya meninggalkan bekas kulit dan tulang saja. Namun kita harus berupaya memanfaatkan hidup untuk kelangsungan hidup bermasyarakat).

APA YANG PALING BERNILAI PADA DIRI ORANG TUA
(Mustika orang tua kepada anak berupa perilaku sayang kepada anak, kalimat yang menentramkan, tutur kata yang manis. Kasih sayang yang terletak pada perilaku yang utama, menjadi suritauladan. Kalimat dan tutur kata terletak pada ucapan yang menentramkan hati, merasuk mencerahkan ke dalam jiwa, serta dengan keluhuran budi pekerti. Oleh sebab itu, bila terjadi apa-apa yang tidak diharapkan, jangan keburu menyatakan “ora ono kacang ninggal lanjaran” atau tidak ada anak yang tidak meniru orang tuanya).

KEHENINGAN FIKIR
(Menaggapi kehidupan di tengah pergaulan masyarakat itu gampang-gampang susah. Susahnya karena dapat mebuat fikiran keblinger apabila dalam membangun sikap mawas diri sudah terbalut hawa nafsu. Mudahnya, apabila kita mampu berfikir dengan jernih dan menahan diri (mengendapkan emosi). Menahan diri merupakan akal budi sejati. Yang dapat menjabarkan buah dari wawasan yang bersih tanpa cacat, maksudnya tidak tercemar oleh noda ke-aku-an. Apalagi bila kita teguh menguasai kebeningan fikir, walaupun kehidupan bermasyarakat terjadi kekacauan, maka tidaklah sulit kita mensikapinya).

KEMARAHAN YANG BENAR DAN TEPAT
(Marah kepada seseorang jangan sampai keterlaluan dan kelewatan, hanya karena seseorang itu tidak bakal berani atau sudah tidak mampu melawan, padahal hanya karena mentang-mentang mendapat derajat pangkat yang tinggi saja. Tabiat seperti itu selain watak aniaya, begitupun orang yang dimarahi belum tentu menjadi baik, justru memungkinkan tumbuhnya rasa benci. Seyogyanya jika marah yang sewajarnya saja yang berisi nasehat supaya menjadi baik).

KEUTAMAAN BUDIPEKERTI ADALAH TIANG ILMU
(Orang yang pandai tetapi tidak disertai keutamaan perilaku dan budi pekerti, tidaklah berbeda dengan orang buta yang membawa obor di malam hari. Menjadi penerang orang lain, tetapi perilaku dirinya sendiri malah tersesat-sesat. Kepandaian semacam ini bila diterapkan di tengah kehidupan bermasyarakat akan menimbulkan kerugian, yang didapat hanyalah kesengsaraan dan kerusakan).

KEMENANGAN ITU MAHAL HARGANYA
(Barang siapa gemar keluhuran budi harus berani berkorban dan tidak enggan melewati kesulitan. Karena bila ragu-ragu, tidaklah mungkin apa yang diharapkan dapat terwujud, dan mustahil apa yang dicari bisa ketemu. Berani bekerja keras dengan dengan berserah diri jiwa dan raga kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Bila ingin menang memang mahal harganya, yakni harus dapat mematuhi peribahasa; “sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”)

MANUSIA TAK LAZIM
(Masih beruntung bila kamu dibilang “tidak lazimnya orang” sebab berarti masih danggap manusia. Hanya saja polah tingkah mu yang harus dirubah, agar tidak menimbulkan iri hati orang lain. Celakanya bila kamu dibilang “tidak lazimnya manusia” sebab kamu dianggap setan gentayangan yang mengotori jagad karena watakmu yang meninggalkan sifat kemanusiaan. Maka dari itu, segeralah bersujud kepada Tuhan Maha Pencipta.

HAKEKAT SEDEKAH
(Tiada perbuatan lebih mulia selain sedekah yang berarti membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Sedekah kepada sesama berarti juga menolong diri sendiri, melatih diri merasa ikhlas dan lapang dada, yang berarti mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mengabdi sama halnya dengan pasrah, kita tidak mengharap imbal-balik atas apa yang kita berikan. Semua itu yang punya hanyalah Tuhan Yang Mahakuasa. Kita tidak berhak berharap buah dari pengabdian untuk diri kita sendiri. Melakukan kebaikan dengan cara berderma (sedekah) adalah wajib, tetapi mengharap menuai buah dari kebaikan, kita tidaklah berwenang).

KIAT KELANGSUNGAN RUMAH TANGGA
(Hubungan persaudaraan hingga berjodoh itu bila satu sama lainnya dapat saling membimbing, ikhtiyar dapat membangun kebaikan. Bila sekali dua kali terjadi pertengkaran itu masih lumrah, dapat menambah eratnya hubungan. Namun sebaliknya bila tak mampu membangun sikap saling membimbing maka jarang akan berlangsung selamanya. Malah, perbedaan sedikit saja akan menjadi sumber malapetaka).

PRIHATIN MEMBANGUN SENSE OF HUMAN
(Orang yang tak pernah prihatin tidak akan terpilih menerima anugrah ketajaman perasaan yang menumbuhkan perasaan haru dan belas kasih lahir batin. Orang yang pernah menjalani prihatin lebih mampu merasakan penderitaan orang lain (empati). Biasanya mereka lebih peduli untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang kesusahan).

BANYAK CARA MENUAI MASALAH
(Berbagai macam rahasia baik maupun buruk, bila masih kamu simpan rapat di dalam hati, selamanya masih akan tetap menjadi budak. Bila sudah kamu perlihatkan sedikit saja akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia sendiri saja sudah berat. Apalagi bila sampai dipercaya menggenggam rahasia orang lain. Maka dari itu janganlah suka ingin mengetahui rahasia orang lain. Sudah jelas, hanya akan menambah beban yang sesungguhnya bukan kewajibanmu ikut-ikutan).

BERWAJAH RIANG SEKALIPUN SEDANG MENDERITA
(Siapapun akan merasa hormat, kepada orang yang selalu tampak riang gembira, meskipun orang itu baru mengalami kesusahan dan kesulitan dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang selalu tampak kusut suka ngedumel dan sering ngomel karena keinginannya tak terwujud, itu jelas kekuatan batinnya dan tenaganya bakal sirna. Mustahil dapat pertolongan, terkadang malah jadi orang yang dibenci sekalipun oleh kerabatnya).

SILAHKAN; MAU BANYAK MENDENGAR ATAU BANYAK BICARA
(Kita diberi satu mulut, dua telinga, oleh Tuhan Mahakuasa. Maknanya, kita harus lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Sesungguhnya orang yang gemar mengumbar mulutnya ketimbang telinganya, seperti itulah watak orang yang bicaranya tak berisi. Sebaliknya, yang banyak mendengarkan, biasanya bicara sedikit namun tepat dan berbobot. Pantas menjadi tempat tujuan orang-orang yang membutuhkan nasehat (petunjuk) yang baik).

PENYEBAB KEKALUTAN DIRI
(Orang yang selalu gemar menyadap ingin tahu, begitupula mencampuri perkara orang lain, hingga sampai ikut-ikutan berujar, hal itu seumpama mencari-cari muatan yang sesungguhnya tidak perlu, biasanya justru membuat kalut dirinya sendiri)

MULUTMU, HARIMAUMU
(Sepatah kata yang terucap tanpa dipikir lebih dulu, sering menimbulkan perpecahan dan celaka. Maka, keluarnya kalimat dalam sepatah dua patah kata dari mulut seyogyanya diupayakan jangan sampai menyinggung perkara orang lain, terlebih lagi membuat sakit hati orang lain. Sikap mampu mengendapkan kalimat dan tutur kata yang tidak baik, termasuk budi-pekerti yang mulia. Namun begitu, mengapa tidak setiap orang mau melakukannya?)

HATI-HATI MENERIMA KEBAIKAN ORANG
(Orang itu bila sudah berhasil menerima kebaikan dan merasa berhutang budi, wataknya di kemudian hari bisa berubah, menjadi tidak teguh dan bersih. Sehingga tak mampu menjaga tegaknya keadilan, sebab mulutnya tersumbat, matanya rabun, telinganya tuli. Hatinya menjadi mati, sulit melihat kebenaran. Maka dari itu jangan mudah menerima kebaikan orang, bila tujuannya mengarah pada perbuatan yang keluar dari kaidah kebenaran).

HATI-HATI, TAK ADA KEBODOHAN UNIVERSAL
(jangan keburu meremehkan orang lain, (hanya) karena orang itu kamu anggap bodoh. Sebab ada kalanya kamu membutuhkan jasa dan nasehat orang itu, yang kenyataannya dapat menyelesaikan dan mengatasi masalahmu. Memang dalam suatu hal seseorang dapat dianggap bodoh, tetapi di lain hal tak mungkin anda dapat menandinginya).

SILAHKAN PILIH; BANYAK OMONG ATAU DIAM
(Jika bicara jangan mudah mencela dan menyanjung orang, apalagi sampai nasehat menggurui. Karena ucapanmu belum tentu benar adanya. Yang pasti, pencelaan berakibat sakit hati, dan sanjungan dapat menimbulkan bisa (racun), bila nasehat tidak dihiraukan, semua suara menjadi buruk. Maka idealnya lebih baik diam, karena diam itu sesungguhnya mustika kehidupan)


“ADAB” MEMBENCI ORANG LAIN
(Berupayalah selalu, agar jangan ada orang yang kamu benci, supaya tidak ada orang yang membencimu, sebaliknya sedapat mungkin sayangilah sesama. Karena kejadian buruk di dunia ini adanya dari saling balas membalas. Bila terpaksa kamu membenci seseorang, dan kamu tidak bisa menghilangkan rasa bencimu, rahasiakan agar tidak ada orang lain yang tahu. Bila kamu menceritakan kebencianmu pada orang lain, justru kamu membeberkan kejahatan hatimu)

DI MANAKAH LETAK HARGA DIRI
(Harga diri letaknya ada di mulut. Berharganya raga tergantung oleh busananya. Maka, berhati-hatilah dalam bertutur kata, begitu pula dalam hal cara berpakaian, dapatlah menghargai diri sendiri)

SYARAT MENJADI MANUSIA
(Orang pandai yang masih bersedia meminta pendapat orang lain itu dianggap manusia utuh. Siapa yang merasa sudah pandai kemudian enggan minta pendapat orang lain, itu manusia setengah utuh. Dan siapa yang tidak bersedia minta pendapat orang lain, dapat disebut sama sekali belum (jadi) manusia).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

W A K TU D U N I A